Home Mesir Kang Fitur Setumpuk “Mutiara” di Bumi Para Nabi
Fitur - Mesir Kang - February 10, 2019

Setumpuk “Mutiara” di Bumi Para Nabi

Siapa yang tidak takjub dengan negeri seribu berkah ini. Negeri yang penuh dengan harta karun, sejarah, dan peti ilmu dari zamannya nabi hingga kini. Yang awampun memujinya dengan penuh harap dapat ikut menelisiknya, apalagi kita yang kini dengan sempurna bisa menginjakkan kaki dibumi dongeng ini. Berada diantara jutaan hamba-hamba Allah yang beruntung, tentu saja rasa syukur dan takjub itu menjadi berlipat ganda. Bagaimana tidak, piramid, masjid al-Azhar, Universitas al-Azhar, makam Imam Syafi’i, Para Syekh, benteng Salahudin al-Ayubi dan tak ketinggalan sungainya yang terpanjang sedunia, sungai Nil. Semua itu yang dulu hanya dapat kita dengar ceritanya sekarang ada didepan mata kita. Kita berada diantara kisah-kisah itu, iya kita dekat dengan semua yang dikisahkan Allah dalam kalamnya, negeri kinanah.

Jika Mesir merupakan wadah peradaban dimuka bumi, maka al-Azhar adalah wadah ilmu yang paling tua. Dalam arti wadah ilmu yang paling tua kontinuitasnya dari pertama kali didirikan di zaman dinasti Fatimiyah hingga kini. Terang saja, reputasi dan kredibilitasnya dalam mengembangkan ilmu agama Islam dan mencetak kader-kader Islam yang wasatiyah, dan intelek sudah diakui dunia.

Mesir dan al-Azhar seperti memiliki daya magnet tersendiri yang teruntai. Menggabungkan segala persepsi pada satu kata yang mewakili, hadza min fadhli rabbi. Karena tidak hanya keindahan saja yang Allah karuniakan di negeri kinanah ini namun juga khazanah-khazanah Islam juga begitu kental di dalamnya. Piramid yang selalu menjadi ikon pertamanya, selalu ramai dan menggoda bagi siapa saja untuk mengunjunginya. Sekedar berfoto dan naik unta, barang kali.

Tak hanya itu. Ikon keduanya, sungai Nil juga merupaka keajaiban tersendiri bagi negeri ini. Heredotus ( 484 SM-425 SM) menyatakan,

“ Negeri ini adalah karunia sungai Nil” baginya, sungai Nil adalah jantung kehidupan negeri ini.

Jika melihat struktur geologi dan musimnya yang hanya terdiri dari padang pasir, sudah barang tentu tandus, dan 4 musim yang berganti, tanpa adanya musim penghujan maka benar kiranya jika kelangsungan hidup negeri ini ada pada sungai Nil.

Ulama’ masyayikhnya yang memikat hati, bak sumur yang selalu penuh dengan timba di dalamnya sehingga para santri al-Azhar berbondong-bondong mendatangi ruwaq satu ke ruwaq lainnya demi mengutip dan memetik ilmu dari sang guru. Kitab turotsnya yang tak pernah sepi dari buronan para santri, dari bab tafsir, haditz, fiqih, ushul fiqih, balaghah dan banyak lagi lainnya tentu saja karena mutiara yang terkandung didalamnya.

Dinding-dinding jalan yang penuh dengan coretan kalamullah. Sehingga jika membacanya, berarti ada satu ganjaran yang telah kita tanam. Tilawah-tilawah al-Quran kita dengar dimana-mana. Di dalam bus, toko-toko, lapak buah dan sayur hingga di kantor-kantor, menentramkan sekali. Jika di Indonesia, melihat orang membaca Qur’an di jalan, atau di dalam bus, maka itu akan menjadi pemandangan yang aneh. Berbeda sekali kalau kita lihat di mesir. Seolah menjadi hobi dan tradisi bagi mereka. Memanfaatkan waktu yang ada untuk membaca al-Quran, di dalam  bus, di depan kampus, menunggu bus, dan semua itu bukan hal yang aneh lagi.

Pribadi warga Mesir terkenal keras dan kasar. Akan tetapi mereka sangat bersahabat dan toleran kepada para Masisir (baca: Mahasiswa Indonesia di Mesir_red). Memang tidak semua, tapi kebanyakan begitu. Misalnya, ketika membeli sesuatu yang sedikit merogoh saku, bilang saja santri al-Azhar, bisa dipastikan akan mendapatkan potongan harga yang cukup lumayan. Karena bagi warga Mesir, mahasiswa di sini adalah berkah bagi mereka, dan kerap sekali mereka meminta untuk didoakan. Sering juga, ketika duduk-duduk di teras al-Azhar, di jalan, atau di mana saja tiba-tiba ada orang Mesir yang mengeluarkan beberapa lembar uang untuk mahasiswa “hadza laki minallah”. Banyak juga orang Mesir yang memberikan musa’adah sembako bagi mahasiswa. Maka jangan khawatir ketika merasa tak punya apa-apa, karena Mesir gudangnya ilmu, gudangnya kebaikan dan rizki bagi siapa saja yang menyandarkan niatnya di sini.

Yang demikian itu merupakan mutiara esensi Islam di Negeri seribu berkah ini. Tidak hanya teori saja tapi juga pengamalan Islam dan muamalahnya. Islam yang toleran karena tidak bertumpu pada satu madzhab dan alirannya. Islam yang adil dalam pengembangan hukum-hukumnya, dan Islam yang rahmatan lil’alamin bagi siapa saja yang berada di sekelilingnya.

Maka nikmat manakah yang kamu dustakan?.

(Penulis: Melati di Padang Arafah)

2 Comments

Comments are closed.