Home Ngaji Kang DRUNKEN MONSTER: CACATNYA HARIAN PIDI BAIQ
Ngaji Kang - Resensi - March 31, 2019

DRUNKEN MONSTER: CACATNYA HARIAN PIDI BAIQ

Penulis : Pidi Baiq

Penerbit : Pastel Books

Tahun Terbit : 2016, cetakan Ke-5

Tebal buku : 292 Halaman

Pidi Baiq adalah seorang seniman yang memiliki banyak talenta. Dia dikenal sebagai penulis, komikus, ilustrator, dan musisi. Pidi mengawali karir di dunia seni dengan membentuk “The Panas Dalam Band” pada tahun 1995. Pidi sebenarnya pernah menjadi dekan di salah satu jurusan di ITB, namun ia memutuskan kembali ke dunia seni yang telah mendarah daging baginya.

Sosoknya memang jarang terdengar. Sampai akhirnya melejitlah Trilogi Dilan, yang terbit 3 tahun beruntun dari tahun 2014-2016. Kemudian namanya semakin meledak setelah novelnya diangkat di film layar lebar. Drunken Moster adalah salah satu dari 4 serial Drunken (Drunken Molen, 2009; Drunken Marmut, 2009; Drunken Mama, 2009).

Serial drunken ini adalah debut Pidi sebagai seorang penulis. Nama drunken ini terinspirasi dari Film Drunken Master yang dibintangi aktor laga ternama, Jackie Chan. Pidi (baca: Penulis) memang sangat menyukai seni bela diri Kung Fu. Muncul dengan genre komedi, Drunken Monster terasa tidak terpisah dari author yang dalam dunia nyatapun memang lucu. Semisal pada penggalan kalimat ”Di sana, di sekolah, yang namanya kebenaran ada di luar murid-muridnya, kunci jawaban namanya.”

Pada penggalan tersebut, Pidi Baiq mampu membuat sesuatu yang sederhana, namun memiliki arti dan makna yang luar biasa. Hal ini tentu tidak bisa dilakukan sembarang orang, karena cukup sulit menemukan keunikan dan kedalaman makna di antara suatu hal yang nyeleneh atau terkesan seenaknya. Ada lagi makna tentang ringan tangan yang tergambar pada dialog, ”Kalau kamu nanya kenapa saya ngasih uang?ya ngasih aja, apa susahnya, toh gampang, cuma tinggal ngasih.”

Drungken Monster memiliki kalimat yang pendek tanpa struktur. Kecerdasan improvisasinya begitu nakal dan semena-mena. Buku ini menjungkirbalikan keyakinan filosofis, bahwa manusia adalah makhluk bernalar yang mengendalikan segala perilakunya dengan pengertian rasional. Akan tetapi, ini adalah kegilaan yang menjajikan, absurditas yang mencerahkan, abnormalitas yang memesona, dan ironi yang merangsang iluminasi.

Karena setiap jengkal buku -dan memang kekuatannya- ini berupa lelucon, seringkali leluconnya justru terasa ‘receh’. Alhasil kebosanan menyerang setelah receh demi receh itu terlalui. Hal semacam ini telah diperhitungkan penulis. Segala kegilaan ini mustahil terjadi secara kebetulan. Pidi tak acuh dengan dengan pembaca. Dia benar-benar liar tanpa ada Batasan, bahkan akal sehat. Setidaknya dalam satu paragraf, ada saja hal absurd yang muncul. Seperti, “Ngapain ke Dago, mau ke mana, yang penting jangan lupa minum, sayangi ginjalmu.” Terlihat sekali Pidi memang ‘mabuk’ saat menulis buku ini.

Jika kita perhatikan, seluruh karya Pidi Baiq memang mempunyai gaya bahasa yang sama, sama gilanya. Namun diantara sekian banyak karyanya, jelas Trilogi Dilanlah yang paling menonjol. Bukan tanpa alasan, Dilan dianggap memberi warna baru dalam romantika yang berbalut komedi.

Di tengah romantika cengeng, Dilan jelas menjadi pembeda. Beda topik kalau kita membicarakan Drungken Monster. Pembaca tidak mendapatkan ‘bonus’ setelah bersusah payah menerka kegilaan yang ada dalam setiap aspek kehidupan Pidi. Bandingkan saja dengan Dilan yang mampu menarik hasrat membaca dengan tingkah hahahihi-nya dengan Milea.

Perbedaan ‘ruh’ ini yang membuat Drungken Monster kalah bersinar. Dengan kata lain justru berkat Trilogi Dilanlah yang mendongkrak karya-karya Pidi sebelumnya, termasuk buku ini. Pergulatan penulis tentang tata bahasa Indonesia dengan gramatikal Bahasa Inggris juga terdapat dalam buku ini. Lebih tepatnya pencomotan secara sporadis sebagai bentuk kalimat yang tidak pernah kita dengar dalam penuturan Bahasa Indonesia. Misalnya pada penggalan, ”Saya sudah sedang di perjalanan pulang mengantar istri saya.”

Pidi dalam kegilaannya juga memainkan fonem untuk memainkan takrif suatu kata. Kata mendustai dalam permainan fonem tersebut berarti membungkus tahi dengan dus. Makna ini jelas tidak ditemukan pada akal sehat manapun.

Banyak juga kritik sosial yang terbalut dalam tawa yang menggelitik. “Setiap ada orang yang keluar dari kompleks, sama si Sopir diajak ikut. Mudakah, tuakah, cantikah, jelekkah, miskinkah, kayakah, Islamkah, Kristenkah, Buddhakah, Ateiskah, semuanya diajak tanpa pilih-pilih bulu. Plural.” Praktek diskriminasi yang sering terjadi tentu menjadi pemicu munculnya kecemburuan sosial. Dan buku Drungken Moster sukses menyampaikan pesan untuk menjahui perbuatan itu.

Pada akhirnya, tidak ada alasan untuk tidak mengatakan pujian pada Drunken Monster. Kecuali membosankan, buku ini mampu melepaskan diri dari relevansi, harmoni, estetis, dan logis, yaitu belenggu aturan bahasa dan kebudayaan yang selama ini menjadi semacam bingkai normalitas.

Kepada semua pembaca, Anda bisa menemukan buku ini di perpustakaan IKAMARU.(Husni, Muzamil, dan Aqil)